CendikiaNews.Com, sebuah pemandangan yang tak biasa kembali menyapa mata di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten. Kampung Somang, permukiman yang dulunya ramai dan tenggelam akibat pembangunan bendungan raksasa tersebut, kini secara perlahan muncul kembali ke permukaan air. Kemunculan ini tidak hanya membangkitkan memori, tetapi juga mengungkapkan kisah unik di balik layar: lokasi ini pernah menjadi set syuting film horor berjudul "Jembatan Shiratal Mustaqim".
Bendungan Karian, yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan air dan mengendalikan banjir di wilayah Banten, merupakan proyek infrastruktur vital. Namun, seperti banyak pembangunan besar lainnya, kehadirannya turut mengubah lanskap sosial dan geografis, menenggelamkan beberapa desa, termasuk Kampung Somang. Selama bertahun-tahun, kampung ini hanya tinggal nama yang terkubur di bawah hamparan air, menjadi bagian dari sejarah yang sunyi.
Kini, dengan fluktuasi permukaan air bendungan, sisa-sisa Kampung Somang mulai menampakkan diri, menawarkan pemandangan yang melankolis sekaligus menyeramkan. Bangunan-bangunan yang dulunya menjadi rumah kini berdiri tanpa atap, dinding-dindingnya mulai runtuh, dan vegetasi liar merambat di antara puing-puing. Pemandangan ini seolah menjadi pengingat akan kehidupan yang pernah berdenyut kencang di lokasi tersebut.
Keunikan kondisi Kampung Somang inilah yang menarik perhatian sineas. Bounty Umbara, sutradara di balik film horor "Jembatan Shiratal Mustaqim", melihat potensi naratif dan visual yang kuat dalam reruntuhan desa ini. Lokasi yang sudah secara alami memiliki aura misteri dan kesunyian, menjadi latar belakang yang sempurna untuk genre horor.
Proses syuting film tersebut diperkirakan berlangsung antara akhir tahun 2024 atau awal 2025. Maman, seorang warga setempat, menceritakan bahwa saat itu, sebagian rumah di Kampung Somang sebenarnya sudah terendam air bendungan. Untuk memenuhi kebutuhan adegan, bahkan ada upaya untuk sedikit menyurutkan air bendungan, menunjukkan komitmen tim produksi dalam memanfaatkan keaslian lokasi.
Dalam narasinya, film tersebut menggambarkan Kampung Somang yang telah hancur seolah-olah baru saja diterjang tsunami. Penggambaran ini menambah dimensi dramatis pada setting yang memang sudah memilukan. Kondisi fisik kampung yang sudah rusak parah secara alami, memberikan realisme yang menakutkan tanpa perlu banyak rekayasa set.
Proyek film ini juga membawa dampak positif bagi warga sekitar, khususnya di Kecamatan Sajira. Banyak penduduk lokal yang terlibat sebagai kru film, mulai dari peran figuran hingga tim teknis. Keterlibatan ini tidak hanya memberikan pengalaman baru, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi komunitas yang terdampak oleh pembangunan bendungan.
Maman, sambil menunjuk ke bekas menara masjid berwarna hijau yang kini telah rusak dan tinggal kerangka, menjelaskan bagaimana tim produksi memasang lampu-lampu di ketinggian untuk kebutuhan pencahayaan. Detail-detail ini menunjukkan betapa kompleksnya proses produksi yang memanfaatkan kondisi geografis yang unik dan menantang.
Jumaidi, warga lainnya, turut berbagi pengalamannya sebagai penjaga keamanan selama periode syuting. Ia menuturkan antusiasme besar dari warga sekitar yang berbondong-bondong ingin menyaksikan langsung proses pengambilan gambar film horor tersebut. Suasana kampung yang dulunya sepi, mendadak hidup dengan hiruk pikuk kru film dan warga lokal.
Syuting berlangsung intensif, siang dan malam, selama hampir sebulan. Intensitas ini, ditambah dengan lokasi yang sudah "seram" secara alami menurut Jumaidi, menciptakan pengalaman yang tak terlupakan bagi semua yang terlibat. Apalagi, banyak warga lokal juga ikut memerankan hantu, menambah kengerian dan keunikan film tersebut.
Kini, saat mengunjungi lokasi pada pertengahan pekan, akses menuju Kampung Somang terasa terisolasi. Rakit menjadi satu-satunya alat transportasi bagi warga untuk bepergian dari dan menuju daerah Rangkasbitung. Perjalanan ini menjadi refleksi nyata dari terputusnya akses darat akibat pembangunan bendungan.
Sisa-sisa bangunan di Kampung Somang benar-benar memperlihatkan jejak kehancuran. Rumah-rumah yang dulu kokoh kini tanpa atap, dengan beberapa bagian tembok yang sudah roboh. Kampung Somang sepenuhnya tak berpenghuni, menjadi sebuah kota hantu yang muncul kembali dari dasar danau.
Meskipun dalam kondisi rusak, struktur tata letak ruangan seperti dapur atau kamar mandi masih terlihat jelas di dalam sisa-sisa bangunan. Jejak-jejak ini menjadi pengingat pahit akan kehidupan sehari-hari yang pernah berlangsung di sana, sebelum semua terendam air dan terlupakan.
Fenomena kemunculan Kampung Somang ini memang ramai diperbincangkan di media sosial, memicu rasa penasaran publik. Namun, kenyataannya, lokasi tersebut tidak banyak dikunjungi oleh warga dari luar Kecamatan Sajira. Sebagian besar orang yang hadir di lokasi saat ini adalah warga dari kampung-kampung sekitar, mungkin karena kesulitan akses atau rasa hormat terhadap tempat yang menyimpan banyak kenangan.
Kampung Somang kini berdiri sebagai monumen bisu dari pembangunan dan perubahan, sekaligus menjadi saksi bisu kreativitas sinema yang berani memanfaatkan keunikan lanskapnya. Kisahnya adalah perpaduan antara sejarah yang tenggelam, kemunculan yang tak terduga, dan narasi horor yang merasuk.
Sumber: news.detik.com






