Perjalanan Rahmat menuju titik balik ini dimulai dari kegelisahan. Dengan kaki terpasang alat pelacak GPS, pria dua anak ini telah menjalani 2,5 tahun dari masa hukumannya akibat kasus narkotika. Ia dipindahkan dari Lapas Bentiring, Bengkulu, menuju benteng terakhir bagi narapidana di Indonesia, Lapas Nusakambangan, Jawa Tengah.
Bayangan akan kekejaman dan isolasi yang melekat pada nama Nusakambangan menghantui benaknya. "Memang awal pertama kali saya tiba di sini, bayangan saya ya Nusakambangan benar-benar wah takut apa bagaimana, apa pulang tidak, apa bagaimana," tutur Rahmat kepada awak media di area tambak udang Nusakambangan beberapa waktu lalu. Ketakutan itu adalah respons alami terhadap citra sebuah tempat yang dikenal sebagai rumah bagi para penjahat paling berbahaya.
Namun, ketakutan itu perlahan memudar seiring waktu. Rahmat terus menjalani rutinitas hariannya, beradaptasi dengan lingkungan baru yang jauh dari hiruk pikuk dunia luar. Di tengah keterbatasannya, sebuah tawaran datang yang mengubah segalanya. Pihak lapas menawarinya kesempatan untuk mengelola dan merawat tambak udang ketahanan pangan yang berada di kompleks penjara.
Pilihan itu, baginya, sangat jelas. Ia lebih memilih bekerja di alam terbuka, mengurus tambak udang, daripada harus terus-menerus memandangi jeruji besi yang membatasi pandangannya. Ini adalah sebuah jendela menuju kebebasan, meskipun dalam konteks yang terbatas, menawarkan pelarian dari monotonnya kehidupan penjara.
Selama satu tahun terakhir, Rahmat telah sepenuhnya menyatu dengan rutinitas barunya. Setiap hari, ia bertanggung jawab memberi pakan udang sebanyak lima kali, dengan jadwal yang ketat dan teratur. Pekerjaan ini menuntut kedisiplinan dan perhatian, sesuatu yang mungkin luput dari kehidupannya sebelum mendekam di balik jeruji.
Kini, persepsinya tentang Nusakambangan telah berubah drukstis. "Tapi setelah saya di tambak ini, rasa seram di NK (Nusakambangan) ini sudah enak, tidak seseram yang dibayangkan," ungkapnya dengan senyum. Ia menambahkan bahwa pilihan untuk bekerja di tambak tidaklah dipaksakan, melainkan sebuah kesempatan yang ia pilih sendiri, demi menghindari pandangan jeruji yang menyesakkan.

Rahmat merasa beruntung mendapatkan kesempatan ini, terutama mengingat waktu kebebasannya yang tinggal delapan bulan lagi. Pengalaman mengelola tambak udang ini menjadi bekal berharga yang akan ia bawa pulang. "Kalau mungkin dibilang beruntung ya ada juga lah ada pengalaman. Di sini juga saya kalau mungkin di lapas daerah ya mungkin tidak ada," jelasnya, menyadari keunikan program rehabilitasi di Nusakambangan.
Lebih dari sekadar keterampilan praktis, Rahmat juga mengalami perubahan spiritual yang signifikan. Ia mengakui bahwa sebelum dipenjara, ia jarang sekali menyentuh ajaran agama. Sholat dan mengaji adalah hal asing baginya, tergantikan oleh kesibukan duniawi dan gawai.
Nusakambangan, dengan lingkungannya yang steril dari gawai dan hiruk pikuk, menjadi tempat yang tak terduga untuk refleksi diri. "Di darat juga memang tidak tahu salat ngaji, benar-benar tidak tahu, kita sibuk main handphone saja," kenangnya sambil tersenyum tipis, merujuk pada kehidupannya di luar penjara.
Lingkungan kelas maksimum di Lapas Nusakambangan, tempat ia dibina, mewajibkan setiap warga binaan untuk mendalami ajaran agama. "Tapi setelah di sini kan benar-benar tidak ada handphone, steril. Di sini juga apalagi juga di kelas maksimum itu benar-benar diajarin semua; salat, ngaji, diwajibkanlah," tuturnya. Ini adalah sebuah paksaan yang berujung pada kebaikan.
Melalui program-program keagamaan yang intensif, Rahmat akhirnya bisa mengaji dan memahami sholat. Ia melihat ini sebagai "hikmah" atau pelajaran berharga di balik musibah yang menimpanya. Perpindahannya ke Nusakambangan, yang semula ia takuti, justru membukakan pintu menuju pencerahan pribadi.
Kini, dengan bekal ilmu agama dan keterampilan mengelola tambak udang, Rahmat menatap masa depannya dengan harapan baru. Ia telah menerima kesempatan kedua untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih religius, dan memiliki keahlian yang dapat menopang hidupnya setelah bebas nanti. Transformasi ini membuktikan bahwa bahkan di tempat yang paling terisolasi sekalipun, harapan dan perubahan positif bisa bersemi.
Sumber: news.detik.com






