Kenapa ada orang yang senang melihat orang lain susah (schadenfreude)

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan hanya bertujuan untuk memperluas wawasan Anda mengenai kesehatan mental dan psikologi. Informasi di bawah ini tidak dapat menggantikan konsultasi, diagnosis, atau penanganan medis dari psikolog, psikiater, atau tenaga medis profesional lainnya.

Pernahkah Anda secara tidak sengaja merasakan kepuasan batin saat melihat seseorang yang sombong akhirnya mengalami kegagalan? Atau mungkin, Anda merasakan sedikit kelegaan saat rekan kerja yang selalu bersaing ketat dengan Anda membuat kesalahan fatal dalam presentasinya.

Fenomena psikologis ini sangat umum terjadi di tengah masyarakat, meskipun sering kali dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Secara ilmiah, muncul pertanyaan besar mengenai apa yang mendasari perilaku emosional ini, serta kenapa ada orang yang senang melihat orang lain susah (schadenfreude) dalam kehidupan sehari-hari.

Memahami emosi ini bukan berarti kita serta-merta melabeli diri sendiri atau orang lain sebagai sosok yang jahat. Di balik perasaan tersebut, terdapat mekanisme psikologis, sosial, dan neurologis yang sangat kompleks.

Apa Itu Schadenfreude? Definisi dan Makna Psikologis

Secara bahasa, istilah schadenfreude berasal dari bahasa Jerman, yaitu schaden yang berarti bahaya atau kemalangan, dan freude yang berarti kegembiraan. Istilah ini merujuk pada rasa senang, puas, atau gembira yang timbul saat menyaksikan atau mendengar kabar tentang kemalangan, kesulitan, atau kegagalan yang menimpa orang lain.

Dalam psikologi, emosi ini dikategorikan sebagai emosi sosial yang kompleks karena melibatkan penilaian diri sendiri terhadap posisi orang lain. Schadenfreude bukanlah sebuah penyakit mental, melainkan reaksi emosional yang umum dirasakan oleh manusia dalam kondisi tertentu.

Meskipun sering kali disembunyikan karena norma sosial menuntut kita untuk berempati, emosi ini tetap ada di dalam alam bawah sadar manusia. Menyadari kehadiran perasaan ini merupakan langkah awal yang penting untuk memahami kesehatan mental dan emosional kita secara lebih mendalam.

Kenapa Ada Orang yang Senang Melihat Orang Lain Susah (Schadenfreude)?

Ada berbagai faktor psikologis yang melatarbelakangi kenapa ada orang yang senang melihat orang lain susah (schadenfreude). Berikut adalah beberapa penyebab utama yang berhasil diidentifikasi oleh para ahli psikologi:

1. Teori Perbandingan Sosial (Social Comparison Theory)

Manusia secara naluriah selalu membandingkan dirinya dengan orang lain untuk mengukur harga diri dan status sosial mereka. Ketika kita melihat orang lain yang berada "di atas" kita mengalami kejatuhan, jarak sosial tersebut terasa menyempit. Hal ini membuat kita merasa posisi kita menjadi lebih baik atau setara secara instan tanpa perlu melakukan usaha tambahan.

2. Tingkat Harga Diri (Self-Esteem) yang Rendah

Seseorang dengan harga diri yang rendah atau rapuh cenderung lebih sering mengalami schadenfreude. Mereka membutuhkan kegagalan orang lain sebagai validasi bahwa diri mereka tidak seburuk yang mereka cemaskan. Kejatuhan orang lain berfungsi sebagai "penopang ego" sementara bagi mereka yang merasa kurang percaya diri.

3. Rasa Iri Hati (Envy) yang Mendalam

Rasa iri yang tidak dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi kebencian yang mendalam terhadap pencapaian orang lain. Ketika sosok yang diiri tersebut tertimpa musibah, rasa iri tersebut seolah-olah terbayarkan atau terpuaskan. Kegagalan orang tersebut dianggap sebagai bentuk keadilan kosmis yang memulihkan ketidakseimbangan yang dirasakan sebelumnya.

4. Dinamika Kelompok (In-Group vs Out-Group)

Fenomena ini juga sangat kuat dipengaruhi oleh persaingan antarkelompok, seperti dalam dunia olahraga, politik, atau pekerjaan. Kita cenderung merasa sangat senang ketika kelompok rival (out-group) mengalami kekalahan atau kegagalan. Keberhasilan kelompok sendiri (in-group) sering kali terasa lebih manis ketika dibarengi dengan keterpurukan kelompok lawan.

Sisi Neurobiologis: Apa yang Terjadi di Otak Kita?

Schadenfreude bukan sekadar konsep psikologis abstrak, melainkan memiliki dasar biologis yang nyata di dalam otak manusia. Penelitian menggunakan pemindaian otak (fMRI) menunjukkan bahwa emosi ini mengaktifkan area otak tertentu secara spesifik.

Ketika seseorang merasakan schadenfreude, bagian otak yang bernama ventral striatum akan menunjukkan peningkatan aktivitas. Area ini merupakan pusat penghargaan (reward center) di dalam otak yang juga aktif saat kita memakan makanan lezat atau memenangkan hadiah.

Sebaliknya, saat kita melihat orang lain susah, area otak yang bertanggung jawab atas rasa empati, seperti anterior cingulate cortex, justru mengalami penurunan aktivitas. Hal ini menunjukkan bahwa pada momen tersebut, otak kita benar-benar menerjemahkan kemalangan orang lain sebagai sebuah keuntungan atau hadiah bagi diri kita sendiri.

Gejala dan Tanda-Tanda Schadenfreude yang Tidak Sehat

Meskipun sesekali merasakan schadenfreude adalah hal yang manusiawi, emosi ini bisa berkembang menjadi tidak sehat jika terjadi secara terus-menerus. Berikut adalah beberapa tanda bahwa perasaan tersebut mulai memengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial Anda:

  • Mencari-cari kesalahan orang lain: Anda secara aktif mencari informasi atau rumor buruk tentang kegagalan rekan kerja, teman, atau figur publik.
  • Kesulitan menunjukkan empati yang tulus: Anda merasa sulit untuk mengekspresikan rasa duka atau simpati saat orang lain tertimpa musibah yang nyata.
  • Merasa lega di atas penderitaan orang lain: Rasa cemas atau stres yang Anda rasakan tiba-tiba mereda hanya karena melihat orang lain mengalami masalah yang lebih besar.
  • Membandingkan diri secara obsesif: Kebahagiaan Anda sangat bergantung pada bagaimana posisi Anda dibandingkan dengan pencapaian atau kegagalan orang-orang di sekitar Anda.
  • Menyebarkan gosip atau berita miring: Anda merasa puas saat membagikan cerita kegagalan orang lain kepada lingkaran pertemanan Anda dengan tujuan merendahkan reputasi mereka.

Jika tanda-tanda di atas mulai mendominasi interaksi sosial harian Anda, hal ini bisa menjadi sinyal adanya masalah mendalam pada kesehatan emosional Anda.

Dampak Buruk Schadenfreude terhadap Kesehatan Mental

Membiarkan emosi schadenfreude tumbuh subur tanpa kendali dapat membawa dampak negatif bagi kesejahteraan psikologis diri sendiri. Berikut adalah beberapa dampak buruk yang dapat terjadi:

Merusak Hubungan Interpersonal

Sikap yang senang melihat orang lain susah lambat laun akan tercium oleh lingkungan sekitar melalui bahasa tubuh atau ucapan Anda. Hal ini dapat merusak kepercayaan, menciptakan jarak sosial, dan membuat Anda dijauhi oleh teman serta keluarga.

Meningkatkan Kecemasan dan Ketidakamanan Diri

Bergantung pada kegagalan orang lain untuk merasa bahagia adalah fondasi emosional yang sangat rapuh. Anda akan terus-menerus merasa cemas bahwa suatu saat giliran Anda yang akan jatuh dan ditertawakan oleh orang lain dengan cara yang sama.

Menghambat Pertumbuhan Pribadi

Alih-alih fokus memperbaiki kualitas diri dan mengejar impian, energi mental Anda habis terkuras untuk mengamati dan mengharapkan kejatuhan orang lain. Hal ini membuat produktivitas dan kreativitas Anda menjadi terhambat secara signifikan.

Cara Mengatasi dan Mengelola Perasaan Schadenfreude

Jika Anda menyadari bahwa perasaan ini mulai mengganggu kedamaian pikiran Anda, ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk mengelolanya:

1. Latih Kesadaran Diri (Self-Awareness)

Langkah pertama adalah mengakui perasaan tersebut tanpa perlu menghakimi diri sendiri secara berlebihan. Saat rasa senang atas kegagalan orang lain muncul, tanyakan pada diri sendiri: "Mengapa kegagalan orang ini membuat saya merasa lebih baik?"

2. Kembangkan Rasa Empati secara Aktif

Cobalah untuk menempatkan diri Anda di posisi orang yang sedang mengalami kesulitan tersebut. Bayangkan stres, kesedihan, atau kekecewaan yang sedang mereka rasakan untuk memicu kembali respons empati alami Anda.

3. Fokus pada Rasa Syukur (Gratitude)

Alih-alih mengukur kebahagiaan dari apa yang hilang dari orang lain, fokuslah pada apa yang sudah Anda miliki saat ini. Menulis jurnal syukur harian dapat membantu melatih otak untuk melihat hal-hal positif tanpa perlu membandingkannya dengan orang lain.

4. Ubah Rasa Iri Menjadi Inspirasi

Jika schadenfreude Anda dipicu oleh rasa iri terhadap kesuksesan seseorang, ubahlah energi negatif tersebut menjadi motivasi. Pelajari apa yang membuat mereka sukses dan gunakan hal tersebut sebagai panduan untuk meningkatkan kapasitas diri Anda sendiri.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Tenaga Profesional?

Merasakan schadenfreude sesekali adalah bagian dari dinamika emosi manusia yang normal dan tidak memerlukan penanganan medis khusus. Namun, jika perasaan ini disertai dengan kebencian yang mendalam, keinginan aktif untuk mencelakai orang lain, atau rasa hampa yang kronis, ini bisa menjadi tanda adanya masalah psikologis yang lebih serius.

Anda sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater jika:

  • Perasaan senang melihat orang lain susah disertai dengan hilangnya rasa empati secara total dalam jangka panjang.
  • Perasaan tersebut bersumber dari depresi berat, gangguan kecemasan, atau gangguan kepribadian tertentu (seperti gangguan kepribadian narsistik atau antisosial).
  • Hubungan sosial, pekerjaan, atau keharmonisan keluarga Anda mulai rusak akibat sikap sinis dan kurangnya empati yang Anda tunjukkan.
  • Anda merasa terjebak dalam siklus pikiran negatif yang tidak bisa Anda kendalikan sendiri.

Seorang profesional kesehatan mental dapat membantu Anda mengidentifikasi akar penyebab emosi tersebut dan memberikan terapi perilaku kognitif (CBT) untuk membangun pola pikir yang lebih sehat dan konstruktif.

Kesimpulan

Pada akhirnya, memahami kenapa ada orang yang senang melihat orang lain susah (schadenfreude) membuka mata kita bahwa emosi manusia tidak selalu hitam dan putih. Fenomena ini sering kali menjadi cermin dari rasa tidak aman, rendahnya harga diri, dan kebutuhan manusia akan pengakuan sosial yang terpendam di dalam diri.

Meskipun emosi ini bersifat alami dan memiliki dasar neurobiologis di dalam otak, membiarkannya tumbuh tanpa kendali dapat merusak kesehatan mental dan kualitas hubungan sosial kita. Dengan melatih empati, memperbanyak rasa syukur, dan fokus pada pengembangan diri sendiri, kita dapat mengubah energi negatif tersebut menjadi kekuatan positif yang membangun.

Membangun kesehatan mental yang stabil dimulai dengan keberanian untuk jujur pada diri sendiri, mengakui kelemahan kita, dan terus berproses menjadi pribadi yang lebih bijaksana setiap harinya.